Pemeliharaan Allah (Kej 39:1-23; 50:19-20)

Istilah ‘Providentia Dei’ (Pemeliharaan Allah) harus dimengerti dengan jelas dan benar. Sebab banyak orang memiliki pengertian yang tidak jelas mengenai pemeliharaan Allah yang sesuai dengan Firman Tuhan. Banyak orang yang menganggap bahwa pengertian dari pemeliharaan Allah atas manusia itu dipandang mirip dengan pengertian sebagaimana manusia memelihara hewan peliharaannya. Allah menyediakan segala kebutuhan-kebutuhan yang kita perlukan seperti tempat tinggal, makanan/minuman, kesehatan, pendidikan, dsb. Ada pengertian yang lebih dalam dari istilah ‘Providentia Dei’ ini di dalam bahasa Latinnya. Pengertian ini dikemukakan oleh seorang dokter ahli bedah (seorang Katolik) melalui cerita pengalaman hidupnya yang dimuat dalam koran Kompas. Beliau menyatakan bahwa dari campur tangan Allah di sepanjang  hidupnya, Allah tidak hanya menyediakan apa yang dia butuhkan/perlukan melainkan Allah adalah Allah yang menyelenggarakan hidupnya, Allah yang merencanakan hidupnya. Hidup kita adalah hidup yang diselenggarakan oleh Allah. Mari kita mengerti arti ‘Providentia Dei’ bukan berdasarkan/bergantung pada bahasa Latin atau gereja tertentu melainkan apa yang diajarkan oleh Firman Tuhan mengenai pemeliharaan Allah atas hidup kita.

Dalam buku ‘Five Points of Calvinism’ (Lima Pokok Calvinisme) secara khusus dalam pokok ke-5 yaitu ‘Perseverance of the Saints’ (Ketekunan Orang-orang Kudus) disebutkan bahwa ketekunan orang-orang kudus sampai akhir dapat dibandingkan dengan providentia Allah. Allah tidak hanya menciptakan alam semesta tetapi Dia juga menopang ciptaannya. Bila Dia menarik kuasa-Nya dari alam semesta walau hanya sedetik saja maka alam semesta ini akan kembali kepada ketiadaan. Kita mengerti bahwa semua alam semesta ini diciptakan dari ketiaadaan (creatio ex nihilo) dan supaya tetap eksis maka ditopang oleh kuasa Allah maka bila kuasa yang menopang itu ditarik maka semuanya kembali kepada ketiadaan. Alam semesta ini tidak mempunyai eksistensi pada dirinya sendiri dan eksistensinya itu bergantung kepada Allah. Hal tersebut tertulis dalam Alkitab: “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan…”(Ibrani 1:3a).

Allah mempertahankan segala sesuatu supaya tetap ada, Allah menjaga kelangsungan seluruh ciptaan termasuk manusia, Allah hadir dan turut bekerja di dalam segala sesuatu, Itulah providentia Allah (Rom 8:28). Allah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu itu dapat diasumsikan bahwa Allah itu Maha Hadir dan berdaulat. Allah yang Maha Hadir pasti hadir dimana pun (konteks hadir disini berkaitan dengan lokasi) sedangkan kehadiran Allah di dalam hati orang percaya dan ketidakhadiran Allah di hati orang tidak percaya adalah dalam pengertian relasi/hubungan dan persekutuan karena memang orang percaya memiliki persekutuan dengan Allah. Kehadiran Allah menjadi sukacita dan penghiburan yang tiada terkira bagi orang-orang percaya tetapi kehadiran Allah bagaikan api yang menyiksa bagi orang-orang yang tidak percaya. Jadi Allah yang Maha Hadir ialah Allah yang hadir baik bagi orang percaya maupun orang yang tidak percaya. Sehingga tidak ada satu tempat pun Allah tidak hadir. Kontrol Allah itu bekerja dan hadir di pusat hati, kehendak, dan pikiran yang menggerakkan/mengendalikan seluruh tindakan. Providentia Allah atas orang percaya seperti yang dirumuskan  di dalam Pengakuan Iman Westminster dan Pengakuan Iman Baptist (yang disusun pada abad XVII) disebutkan bahwa segala sesuatu yang terjadi yang menimpa orang percaya, baik menyenangkan atau tidak menyenangkan, baik membuat orang percaya itu menderita atau tidak dengan segala situasi yang menyertainya, semuanya berada dalam providentia Allah. Orang percaya yang sungguh-sungguh mengerti/menghayati providentia Allah akan merasakan damai yang luar biasa karena orang percaya itu hidup di tengah-tengah pekerjaan Allah. Pekerjaan Allah dalam hidup ini juga mengontrol/mengendalikan orang-orang yang tidak percaya (hal ini disebut sebagai common grace/anugerah umum). Allah menahan kejahatan berkembang semakin luas melalui anugerah umum, jika tidak maka bumi ini akan menjadi seperti neraka dan tidak dapat ditinggali lagi.

Providentia Allah itu mencakup segala sesuatu. Baik peristiwa baik maupun peristiwa buruk. Inilah yang diimani oleh Yusuf seperti pengakuannya di depan saudara-saudaranya dalam Kejadian 50:20. Yusuf memandang segala kejadian buruk yang ia alami, berada di dalam providentia Allah yang akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Cakupan providentia Allah di dalam kehidupan kita adalah segala peristiwa baik yang menyenangkan maupun tidak, bukan hanya dalam kecukupan materi melainkan juga dalam kekurangan materi, bukan hanya dalam kondisi sehat melainkan juga dalam kondisi sakit. Semuanya memiliki tujuan di dalam kontrol Allah. Tujuan providentia Allah bukan hanya untuk mendatangkan kebaikan kepada kita secara pribadi tetapi juga untuk umat pilihan Allah.

Kejatuhan manusia dalam dosa juga berada di dalam providentia Allah. Tuhan Yesus lahir dari deretan orang-orang berdosa, sebagai contoh di dalam Matius 1:6. Tetapi, Allah justru memakai orang-orang berdosa menjadi jalan bagi kehadiran Kristus. Tetapi ini tidak berarti bahwa Allah berkenan terhadap dosa atau Allah menghendaki dosa. Dosa tetaplah dosa dan Allah murka terhadap dosa. Tetapi semua itu dipakai oleh Allah menjadi saluran anugerah dan berkat. Daud tetap harus bertobat dan menerima hukuman atas dosanya. Tujuan dari providentia Allah adalah pernyataan kemuliaan Allah seperti yang tertulis dalam Roma 11:36. Allah menopang alam semesta untuk menyatakan kemuliaan-Nya (Maz 119:2). Jika Allah mau menyatakan kemuliaan-Nya melalui alam nirhayati, terlebih lagi di dalam hidup orang-orang percaya.

Kalau providentia Allah itu mencakup segala sesuatu termasuk dosa, lalu bagaimana dengan tanggung jawab kita ? Apakah itu berarti kita bisa hidup sembarangan ? Bukankah Allah memakainya menjadi saluran berkat dan anugerah? Tentu tidak. Allah tidak meletakkan keinginan berdosa dalam hati manusia, Allah tidak mendorong kita untuk berdosa, Allah tetap murka dan menghukum dosa. Kita punya tanggung jawab untuk tetap berada dalam hubungan pribadi dengan Tuhan dan hal itu tidak boleh dipisahkan dari provindentia-Nya.

Ada pekerjaan Allah dan ada juga bagian tanggung jawab kita yang tetap harus dikerjakan yaitu kita hidup di dalam Firman, dan di dalam persekutuan dengan Allah dalam segala sesuatu dan kita menyerahkan Allah bekerja di dalam providentia-Nya. Kita sadar bahwa semuanya itu adalah bagi hormat serta kemuliaan nama Allah. Amin.

Written By. Pdt. Gatot Setijobudi.

About these ads
This entry was posted in Kejadian. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s