Prioritaskan Keluarga (2 Samuel 18:29a)

Bagian ini (2 Samuel 18:29a) menceritakan Daud yang waktu itu berhadapan dengan Absalom, anaknya. Absalom adalah anak yang berbakat dan cemerlang, namun kemudian menjadi anak yang liar, memberontak, dan bahkan menggulingkan kekuasaan ayahnya sendiri, Raja Daud. Ketika Daud memerintahkan pasukannya untuk menumpas pemberontakan Absalom. Saat itu Daud tidak mendapatkan kabar dari pertempuran yang ada khususnya kabar mengenai prajurit/perwiranya dan di tengah-tengah ketidakjelasan itu, yang ditanyakan oleh Daud adalah mengenai diri Absalom. Mari kita memperhatikan nats berikut ini :

2Sa 18:29 Lalu bertanyalah raja: “Selamatkah Absalom, orang muda itu?

2Sa 18:32  Tetapi bertanyalah raja kepada orang Etiopia itu: “Selamatkah Absalom, orang muda itu?

Bagian ini menceritakan suatu relasi keluarga antara Daud dengan Absalom. Absalom itu adalah pemuda yang berbakat dan juga seorang yang ambisius. Tetapi Absalom berubah menjadi anak yang liar, perbuatannya yang tidak bermoral, dan bertindak di luar batas yaitu mengambil alih kekuasaan ayahnya sendiri. Absalom memberontak dan menggulingkan kekuasaan Daud sebagai raja. Tentunya perbuatan yang dilakukan oleh Absalom ini menimbulkan reaksi atau sikap Daud yang tidak terkirakan. Tetapi di tengah pertempuran pada waktu prajurit/panglimanya pergi berperang menumpas pemberontakan Absalom, Daud tidak menanyakan keadaan panglimanya, Yoab, atau berapa orang yang gugur dalam pertempuran, kepada orang yang membawa berita pertempuran, tetapi yang ditanyakan Daud cuma satu yaitu keadaan anaknya, Absalom seperti pada nats yang kita baca diatas. Kita perlu merenungkan kalimat pertanyaan Daud tersebut.

Mengapa perlu merenungkan kalimat pertanyaan Daud tersebut ? Karena pertama, kalimat ini menyiratkan adanya kekuatiran dari seorang ayah terhadap keadaan anaknya. Seberapa buruk/rusak atau seberapa terpuruknya seorang anak dari seorang ayah/ibunya, tetaplah disebut anak bagi ayah/ibunya. Secara instinctive (naluriah), semua orangtua bersikap demikian mengasihi anaknya, bagaimana pun keadaan atau perilakunya. Dalam bagian 2 Sam 18:29a ini, Daud ketika bertanya, tidak menempatkan diri sebagai raja atau pemimpin, melainkan sebagai seorang ayah. Seorang ayah yang peduli dengan keadaan anaknya dan waktu itu Daud mengkuatirkan anaknya.

Kekristenan mengajarkan bahwa kita harus menghormati orangtua dan kita harus tahu satu hal yaitu selagi kita masih mempunyai orangtua, kita harus menghormati orangtua kita selagi masih hidup entah orangtua yang sudah Kristen apalagi yang belum Kristen. Kita harus menghormati orangtua meskipun orangtua kita adalah orangtua yang mempunyai sikap hidup yang buruk. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk tetap menghormatinya dan berdoa bagi mereka supaya percaya kepada Tuhan. Orangtua juga mempunyai kekuatiran dan kepedulian terhadap anaknya sama seperti Daud yang peduli dengan keadaan anaknya. Bahkan orangtua itu mungkin mendoakan dan menanyakan keadaan kita sebagai anak. Sehingga pada hal pertama ini, kita sebagai anak tidak boleh mengabaikan kepedulian dan kasih sayang orangtua.

Hal kedua dari pertanyaan Daud itu membuka suatu hal yang tidak harmonis dalam relasi antara Daud dengan Absalom. Sebelum terjadi pemberontakan itu, memang sudah terjadi relasi yang kurang baik, paling sedikit Daud mengabaikan Absalom sehingga Absalom bertingkah dengan berbuat sesuatu untuk menarik perhatian seperti halnya anak remaja yang membuat ulah tertentu untuk menarik perhatian orangtuanya. Seringkali kerumitan/kehancuran keluarga yang terjadi di kota-kota besar biasanya disebabkan oleh relasi yang tidak harmonis antar orangtua dengan anak. Absalom pergi dari rumah Daud dan kemudian memberontak namun Daud tetap menanyakan keadaan Absalom dengan perkataan yang bernada positif bukannya bernada negatif (mengatakan “selamatkah Absalom, orang muda itu ?” bukan dengan kalimat “sudah matikah Absalom, orang durhaka itu ?”). Kita yang menjadi orangtua Kristen tetap harus belajar dari firman Tuhan ini. Daud adalah seorang yang beriman, begitu buruknya perilaku Absalom, sikap Daud terhadap Absalom menjadi contoh bagi kita yang beriman. Hati Daud yang menunjukkan sikap kasih dan pengampunan. Hal ini pun merupakan hal yang sulit dilakukan. Jika di dalam kehidupan kita, kita tidak dapat mengampuni sesama, itu berarti kita tidak pernah memahami pengampunan Tuhan terhadap diri kita. Kita belum sungguh-sungguh mengerti pengampunan Tuhan di dalam Kristus terhadap diri kita bila kita tidak dapat mengampuni sesama, siapa pun dia dan apa pun kesalahan dia. Kita harus menyadari siapa diri kita di hadapan Tuhan. Kita sebenarnya adalah ‘terpidana mati’ namun kita diampuni karena kasih dan pengampunan Tuhan yang besar. Maka dengan jelas di dalam Injil diajarkan bahwa orang yang sudah diampuni oleh Tuhan, itu harus saling mengampuni. Jika ini tidak dijalankan maka kita tidak bisa mempunyai relasi yang harmonis di dalam keluarga.

Hal yang ketiga ialah pada waktu Daud menanyakan hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa segala sesuatu telah menjadi terlambat. Daud menangisi Absalom yang telah mati sesuai dengan kabar yang diterima Daud dari orang Etiopia (hal ini bisa dibaca mulai 2 Sam 18:33 dst). Nasi sudah menjadi bubur, waktu yang telah lewat tidak dapat diulang dan kita tidak boleh meniru Daud pada poin ini. Pada bagian sebelumnya, kita harus meneladani Daud dalam kasih dan pengampunannya tetapi pada bagian ini janganlah kita meniru keterlambatan/penyesalan yang terjadi pada Daud dengan relasi yang tidak baik terhadap Absalom.

Kita yang sudah belajar kasih karunia Tuhan Yesus Kristus maka kita harus menerapkan/melakukannya bahkan kepada orang yang tidak pantas dan tidak layak untuk dikasihi/diampuni. Selagi kesempatan masih diberikan oleh Tuhan, tidak pernah ada kata terlambat bagi kita yang sungguh-sungguh memiliki niat baik dan betul-betul hendak mewujudkannya, untuk suatu relasi yang baik terhadap sesama termasuk anggota keluarga sendiri.

*Ringkasan Khotbah in belum diperiksa oleh pengkhotbah

Written By. Pdt. Dr. Daniel L. Lukito

This entry was posted in 2 Samuel and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s