Sola Scriptura (Ulangan 6)

Kita membaca dua bagian Firman Tuhan. Pertama, bagian Firman Tuhan yang dicintai oleh orang-orang Yahudi yang mereka sebut shema/credo yaitu Ulangan 6:4-9. Bagian ini selalu di baca oleh orang-orang Yahudi setiap pagi dan sore hari. Bagian ini juga merupakan suatu credo yang dijunjung tinggi oleh mereka. Sedangkan bagian yang kedua yaitu Firman Tuhan yang tertulis dalam Ulangan 7:6-11.

Reformasi dalam konteks sola scriptura bagi gereja yaitu kesetiaan kita untuk kembali kepada Injil Yesus Kristus. Kesetiaan kita harus bertumpu di atas Firman Tuhan. Kekuatan yang mematikan itu dapat masuk ke dalam gereja dalam berbagai bentuk. Bisa dalam bentuk orang yang merasa dirinya beriman tetapi tidak mempunyai kesejatian dalam sikap percayanya kepada Yesus Kristus. Orang seperti ini bisa jadi Kristen palsu dan juga dapat ‘menghisap’ orang-orang di sekitarnya mengikuti gaya hidup orang seperti itu. Bisa juga dalam bentuk struktural terutama pejabat/orang yang duduk dalam posisi tertentu di dalam gereja. Pejabat/orang yang tidak memberikan teladan yang konsisten dalam melakukan Firman Tuhan. Hal seperti ini yang dapat membuat gereja menjadi ‘kering’ dan akhirnya ‘mati’. Contoh lainnya yang ada di dalam kehidupan kita sendiri ialah ketika kita mengalami persoalan/kesulitan, kita hampir tidak mau kembali kepada kebenaran Firman Tuhan. Kita berjuang sendiri dengan cara penyelesaian kita sendiri. Mungkin juga dengan cara-cara menurut budaya yang sudah biasa/mendarah daging dalam diri kita untuk menyelesaikan kesulitan tersebut. Kita tidak pernah mereformasi/bertanya kembali apakah kebiasaan/cara ini diperkenan oleh Tuhan ? Hal ini menandakan adanya ketidakseimbangan antara iman dan perbuatan. Ketika terjadi ketidakseimbangan maka iman hanyalah bersifat pengakuan saja. Hal ini pun akan menjurus pada ‘kematian’ dan perlu di reformasi.

Lalu hal apa saja yang perlu direformasi ? Di dalam kehidupan kita baik dalam bergereja maupun sebagai anak Tuhan sebenarnya tidak ada yang lain selain diri kita masing-masing yang perlu direformasi. Seperti halnya dalam kehidupan berperang itu yang terpenting itu bukanlah alat-alat yang canggih melainkan orang yang mengendalikan senjata tersebut. Maka sama halnya dengan contoh di atas bahwa diri kita yang perlu di reformasi.

Kita bergereja dan di balik gereja itu tubuh Kristus yang menunjuk pada diri kita maka dengan demikian diri kita yang harus mengalami reformasi dan direformasi.. Kitalah yang harus kembali kepada Alkitab. Kita bertumpu di dalam Firman Tuhan, kitalah yang harus menjunjung tinggi Injil Tuhan Yesus Kristus bukan Injil yang lain. Hal ini penting.

Langkah pertama, singkirkan ‘paus-paus’ baru dalam kehidupan kita lalu tegakkan Alkitab di dalam kehidupan kita. Pada abad XVI waktu Reformasi berjalan, sebelum Martin Luther, sebenarnya sudah ada orang-orang pendahulu yang mencoba mendobrak untuk menjalankan reformasi diantaranya yaitu Erasmus yang mengatakan :

“Kalau saja Kitab Suci ini dipegang oleh setiap anak-anak Tuhan yang datang berbakti di rumah Tuhan, tentu kehidupan masyarakat Kristen tidak akan seburuk saat ini”. Jadi sudah ada suatu kesadaran. Akhirnya di tegakkan dengan berani oleh Martin Luther dengan menempelkan 95 dalilnya di pintu gereja di Wittenberg, Jerman. Hal yang digerakkan oleh mereka ialah gereja tidak boleh dikuasai oleh Paus lagi dan Paus harus turun. Karena waktu itu tidak ada yang boleh membaca Kitab Suci selain Paus. Yang boleh menjelaskan Kitab Suci hanyalah Paus. Padahal Paus yang menjelaskan Kitab Suci itu makin lama makin menyimpang dan tidak lagi benar-benar Kitab Suci yang dibicarakan. Maka Alkitab yang harus ditegakkan kembali dan terbuka sehingga semua orang dapat membacanya. Alkitab harus diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan ditujukan kepada setiap bangsa yang telah bertobat/percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sikap seperti ini harus juga ada dalam diri kita.

Mari singkirkan ‘paus-paus’ yang ada dalam diri kehidupan kita. Biarlah Alkitab yang berbicara kepada kita, Alkitab yang mengoreksi hidup kita dan kita rela dikoreksi oleh FirmanNya. Lalu siapakah ‘paus’ ini ? Banyak macamnya. Mungkin pengkhotbah yang cukup memberi ‘gizi’ bagi kerohanian kita lalu membuat kita merasa tidak perlu lagi membaca Alkitab maka inilah yang disebut ‘paus’ baru dalam kehidupan kita atau sikap kita sendiri yang merasa sudah cukup dengan mendengar khotbah, mengikuti STRIS, mengikuti persekutuan wilayah lalu merasa tidak perlu membaca Alkitab. Maka ‘paus-paus’ macam inilah yang harus disingkirkan. Bila kita mempelajari baik dalam PL maupun PB menjelaskan bahwa semua nabi dan rasul komitmen kepada reformasi yang ada. Semua nabi hanya berbicara dan kembali menegakkan Taurat yang sudah ada dan rasul-rasul pun menyurati setiap gereja dengan tujuan yang sama. Ketika iman mereka menyimpang atau Injil yang lain diangkat lagi atau etika mereka yang sudah menyimpang, mereka pun dibawa kembali kepada arah yang benar.

Paulus pun dalam 2Tim 3:15 yang berbicara kepada Timotius menekankan bahwa pengenalan Kitab Suci dari kecil yang membuat Timotius beriman benar pada Yesus Kristus bukan karena pelayanan/kehebatan Paulus dan Paulus tidak membanggakan diri di depan Timotius (Paulus tidak mengangkat diri menjadi ‘paus’ dalam hidup siapa pun).

Hal ini bisa dilihat dari perkataan Paulus kepada Timotius yang dimulai dengan kata “Ingatlah”. Hal ini menjadi ‘warning’ bagi setiap hamba Tuhan termasuk diri kita masing-masing. Diri kita terbuka di hadapan Firman Tuhan dan belajar bersama dengan Firman Tuhan dan nantinya kita akan bertanggungjawab bersama-sama terhadap Firman Tuhan yang kita kenal dan sejauh mana kita hidup berdampingan dengan Kitab Suci. Mungkin juga bukan ‘paus’ baru tetapi kemalasan kita yang menjadi faktor penghambat dalam mengenal Kitab Suci. Mari kita singkirkan juga. Mari kita belajar Firman Tuhan bersama-sama karena Firman Tuhan memang harus bertahta dalam hidup kita.

Yang kedua, dengan Roh Kudus, biarkanlah kuasa Firman Allah hidup di dalam diri kita. Bagi kita yang telah percaya kepada Kristus oleh pekerjaan Roh Kudus, Firman Tuhan bukanlah kata-kata yang mati. Di balik Firman Tuhan yang suci ini ada karya Roh Kudus yang menghidupkan Firman ini dalam kehidupan kita. Sehingga Firman Tuhan itu benar-benar nyata, segar, dinamis, bukan hanya dapat diperbincangkan dalam mimbar khotbah, STRIS, persekutuan wilayah, KTB, atau PA, tetapi Firman Tuhan dapat juga berbicara di tengah-tengah kehidupan sehari-hari. Kita membaca Ulangan 11:18-20. Bagian ini menyatakan bagaimana Firman itu melekat erat dalam kehidupan kita bahkan Firman Tuhan itu hidup dan menguasai hati/pikiran kita seperti yang tergambar dalam Kitab Ulangan tadi. Tuhan Yesus Kristus pun yang tanpa cacat/tanpa dosa, Dia begitu dengan serius menghidupi Firman dalam diri-Nya dan melakukan/menggenapkan Firman (baca Mat 5:17-19; Ibr 10:7). Dalam Ibr 5:7-8 ini terdapat satu rahasia yang besar. Beberapa langkah di dalam menghidupkan Firman dalam hidup kita bersama-sama dengan kuasa Roh Kudus yang ada dalam diri kita; pertama, ada belajar taat. Dengan belajar taat kita mengambil Firman dan menghidupinya dalam kehidupan sehari-hari. Kesalehan dalam diri Kristus, kesalehan bukanlah suatu label tetapi suatu pencapaian akhir yang didapatkan setelah mengalami perjuangan. Kesalehan sejati itu ialah ketika kita sanggup menyatakan kebenaran, kesucian, dan kemuliaan Allah di tengah-tengah ketidak-nyamanan/ketidak-lancaran hidup.

Ada beberapa tanda bagaimana sola scriptura itu tinggal hidup dalam diri kita yaitu : Pertama, Firman itu tertanam di dalam hati/jiwa kita. Kedua, di dalam persekutuan adanya percakapan/perbincangan kita diisi oleh kekayaan Firman Allah (Kol 3:16 dan Maz 119:97-104). Ketiga, menjadi mercusuar/terang dimana hikmat/akal budi kita melampaui akal budi siapapun, diatas segala level, status, bahkan di saat kita diperhadapkan pada pilihan kejahatan atau kebenaran dan kondisinya hanya satu jalan kejahatan yang mesti ditempuh namun kita masih bisa lepas dan tidak perlu melakukan kejahatan yang terpaksa harus kita jalani.

Mari kita membaca sekali lagi bagian Maz 56:10-11. Pada waktu kita mengalami kesulitan/kesengsaraan hidup, hal apakah yang paling menonjol dalam pikiran/perasaan kita ? Apakah yang menonjol dalam pengambilan keputusan kita ? Adakah Firman itu muncul ?

Bagaimana hal itu dapat terjadi ? Pertama, sikap pandang iman kita terhadap Allah yang kita percayai. Mengacu pada Ulangan 6:1 ketika kita membaca konteksnya, itu memang bisa dipahami dengan sikap iman yang kaku. Kalau kita menghayati iman dengan Allah secara kaku maka kita tidak bisa menikmati sola scriptura itu. Iman yang kaku itu adalah iman yang mekanis dan statis seperti halnya hubungan pimpinan/atasan dengan karyawan/bawahannya berdasar pada aturan yang ada dan selebihnya menyangkut pelanggaran. Dari hal ini bangsa Israel mengerti bahwa Allah itu esa, sifatnya monotheis, Allah yang satu-satunya, Dialah yang paling unggul, paling absolute, jangan sampai menyembah Allah lain dan bila menyimpang dari pesan allah tersebut maka ada hukuman/hajaran/didikan yang harus diterima. Bila dikembangkan lagi seperti yang tercantum pada pasal 7-11 maka kita melihat sebetulnya kita harus membangun sikap iman dengan dinamis dan organis. Sehingga dengan demikian kita bisa menikmati kenyamanan relasi dengan Tuhan. Maksudnya ialah Allah yang ada di atas singgasana sorga, juga adalah Allah yang hadir dalam dunia ini, Allah yang bersekutu dengan kita. Ada terlihat kerinduan Allah (pasal 7) bahwa Allah ingin membagikan/mensharingkan kasih-Nya sehingga kita boleh turut menikmati segala kekayaan sorgawi yang berlimpah dan kita menjadi penyalur berkat Tuhan yang hanya diberikan kepada mereka yang telah ditebus-Nya. Persekutuan kasih yang begitu organis dan dinamis dengan adanya kontak relasi satu dengan yang lain, adanya jalinan persekutuan antara Allah dan kita yang nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dialami oleh anak-anak-Nya sebagai hak istimewa. Bila kita mengerti ini maka sikap sola scriptura tidak lagi menjadi halangan buat kita.

Kedua, cintailah Allahmu dengan bulat hati. Ketika kita mencintai Allah dengan sepenuh hati/bulat hati maka Allah adalah segala-galanya dalam hidup kita, tidak merasa berat walau apa yang harus dijalani itu berat. Seperti halnya sikap para penambang intan yang rela mati demi mendapatkan intan yang dicarinya di bawah tanah. Firman yang kekal ini akan menjadi terang/pelita bagi jalan kehidupan kita. Hidup kita ada di dalam otoritas/kuasa Firman Allah, kita tunduk dibawah-Nya dan hidup sesuai dengan FirmanNya. Amin.

Written By. Ev. Joseph Yisrael

This entry was posted in Ulangan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s